(Sebuah Perjalanan Iman, Kesembuhan, dan Ucapan Syukur)
Awal Mula Penulisan
Hari ini, setelah melakukan panggilan video dengan Pastor Chris Santie MSC di Manado dan menerima berkat, timbul semangat kuat dalam diri saya untuk menulis otobiografi ini. Ini adalah wujud rasa syukur setelah sembuh secara ajaib dari Covid-19 di Yokohama berkat pertolongan Tuhan Yesus.
1. Masa Kecil & Mengungsi (1949 – 1953)
1949: Lahir di Lahat, Sumatera Selatan.
1950: Mengungsi ke Palembang karena situasi Lahat tidak menentu (masa transisi setelah Belanda pergi, sebelum pemerintah Indonesia terbentuk). Banyak terjadi penculikan.
Kenangan: Engkong (papa dari mama), seorang pegawai tambang batu bara Bukit Asam yang ikut membangun rel kereta Tanjung Enim, membersihkan pistol di depan rumah sementara kami ketakutan di dalam. Engkong memutuskan membawa kami mengungsi ke Palembang.
1951: Perjalanan laut mengungsi ke Jakarta bersama mama yang sedang hamil anak ke-5, mual, dan sakit kepala.
Kenangan Nyaris Dibuang: Selama di kapal, saya terus rewel dan menangis karena banyak bisul di kepala ditambah guncangan ombak. Mama yang kalut hampir membuang saya ke laut, tetapi beruntung Mbok pengasuh memeluk saya erat-erat sambil memohon, "Jangan nyonya muda... jangan..."
1951 – 1953: Tiba di Jakarta dan tinggal di daerah Kayoa (Roxy) bersama Emak, Engkong, dan adik-adik Mama.
2. Kehidupan di Kota Baru Grogol (1953 – 1975)
1953 – 1975: Pindah dan tumbuh besar di daerah pemukiman yang baru dibuka, yaitu Kota Baru Grogol (dinamai dari RS Jiwa Grogol).
Suasana Saat Itu: Pemandangan langit seberang kali Grogol masih dipenuhi ribuan kelelawar dan burung gereja. Daerah Trisakti saat itu masih berupa pemakaman. Empang Grogol ditanami ikan mujair, tempat kami biasa memancing 1–2 kali setahun dan berenang.
3. Berkeluarga, Pendidikan & Perjalanan Karir Medis (1968 – 1991)
1968 – 1973: Pendidikan Dokter (FKUI).
1974 – 1980: Pendidikan Spesialis Psikiatri.
1975: Menikah setelah masa penantian selama 6 tahun.
Kelahiran Anak (Ditolong oleh dr. Eddy Katimansah):
1976: Anak ke-1 lahir sehat. (Tahun 1987 mengalami kejang petit mal pertama; tahun 2005 bebas kejang; dan sejak 2015 sudah bisa bekerja paruh waktu).
1978: Anak ke-2 lahir.
1981: Anak ke-3 lahir.
1980: Perjalanan studi/tugas ke India selama 10 minggu (4 minggu di Chandigarh, 2 minggu di New Delhi, 4 minggu di Bangalore).
1983 – 1988: Tugas sebagai dokter ahli psikiater ke Manado. (Kembali ke Jakarta tahun 1988).
1986: Mendapat kesempatan belajar mengenai adiksi opiat di Chiang Mai dan Bangkok, Thailand.
1989 – 1991: Belajar psikiatri anak di FKUI.
4. Lembaran Baru di Vancouver & Ujian Hidup (1998 – 2013)
Juni 1998: Mengungsi ke Vancouver, Kanada. Tinggal sementara di rumah Cik Giok Tin dan memulai hidup dari nol.
Agustus 1998: Ditolong oleh Fr. Edwin Budiman sehingga bisa tinggal di Paroki Guardian Angel, Vancouver.
Juli 2000: Pindah ke kawasan Boundary.
2009: Rumah di Boundary mengalami kebakaran. Bersyukur semua selamat dan unit pemanas (fire furnace) tidak meledak.
November 2012 – Mei 2013: Farida sakit limfoma dan mengalami kesembuhan secara ajaib setelah mengikuti retret pada Februari 2013 di Hamilton, Seattle, WA.
5. Mukjizat Kesembuhan Covid-19 (2020)
Januari – Februari 2020: Mengikuti pelayaran kapal pesiar Diamond Princess.
Maret 2020: Terpapar Covid-19 dan harus dirawat selama 24 hari di Rumah Sakit Yokohama (termasuk 6 hari menggunakan ventilator). Atas kemurahan Tuhan, berhasil pulih dan kembali ke Ottawa pada 8 Maret 2020.